Dalam kurun waktu 1950-1959 pemerintah pada masa
demokrasi Liberal telah memberikan kesempatan pada PKI untuk mengadakan
rehabilitasi, walaupun sebelumnya partai komunis tersebut telah melakukan
pemberontakan PKI Madiun.
D.N. Aidit selaku tokoh PKI kembali ke Indonesia
dengan konsep baru yang dikenal dengan “Jalan Demokrasi Rakyat Bagi Indonesia ”.
Setelah memperoleh kesempatan merehabilitasi PKI
dalam alam demokrasi Liberal, langkah PKI selanjutnya adalah berusaha
memperoleh kesempatan duduk dalam pemerintahan melalui aliansi dengan kekuatan
– kekuatan politik yang penting.
Posisi PKI semakin mantap berkat agitasi dan
propaganda D.N.Aidit yang intensif, sehingga PKI berhasil termasuk dalam salah
satu empat partai besar yang terpilih dalam pemilu 1955, meskipun tidak
berhasil duduk dalam cabinet yang terbentuk pada waktu itu (Kabinet Ali
Sastroamijoyo II).
Dalam pidato Presiden yang berjudul “Penemuan
Kembali Revolusi Kita”, Presiden menjadikan pidato tersebut dirumuskan menjadi
Garis–garis Besar Haluan Negara (GBHN), kesempatan ini dimanfaatkan oleh D.N
Aidit yang duduk dalam panitia kerja DPA untuk memasukkan program – program PKI
ke dalam GBHN yang kemudian dikenal sebagai Manifesto Politik (Manipol)
Republik Indonesia.
Perkembangan selanjutnya yang semakin menguntungkan
PKI terjadi ketika Presiden Soekarno membentuk Front Nasional sebagai alat
penggerak masyarakat. Akan tetapi pada kenyataannya, Front Pancasila malah
menjadi sasaran penggarapan PKI untuk dibawa ke dalam strategi “Front
Persatuan”-nya PKI. Jadilah Front Nasional menjadi alat politiknya PKI. Posisi
PKI juga makin kuat setelah dbentuknya Kabinet Dwikora pada tanggal 27 Agustus
1964 yang didalamnya duduk beberapa tokoh PKI sebagai menteri coordinator dan
menteri lainnya.
Aksi – aksi PKI sebelum Pemberontakan G-30-S/PKI
Setelah penyusupan Kader-Kader PKI ke dalam tubuh
aparatur Negara termasuk ABRI, organisasi politik, dan organisasi masyarakat
dinilai berhasil, maka PKI melakukan gerakan yang disebutnya sebagai tahap
ofensif revolusioner, sebagai berikut :
a. Aksi
Massa dan aksi sepihak
Dimulai pada 26 Maret 1964. Aksi ini
dilakukan oleh BTI (Barisan Tani Indonesia) terhadap para petani Indonesia, BTI
melakukan hasutan diantara para petani sehingga terjadi konflik yang melibatkan
1000 orang petani, selain itu juga melakukan pembabatan padi milik seorng
petani secara paksa. Aksi tersebut dilakukan di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa
Barat dan Sumatera Utara (aksi BTI di Sumatera utara dikenal dengan Bandar Betsy).
b. Teror
Pada tgl 13 Januari 1965 PKI melakukan
penyerbuan terhadap para aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII). Pada kesempatan
itu PKI melakukan pemukulan dan penganiayaan terhadap para kiai,
santri-santrinya dan imam masjid serta merusak rumah ibadah, bahkan
menginjak-injak kitab suci Al Qur’an.
c. Perusakan
Pada tanggal 27 September 1965 melakukan
demonstrasi dan pengrusakan di kantor Gubernur Jawa Timur, tujuannya adalah
menangkap dan membunuh Gubernur Wiyono.
d. Agitasi
dan propaganda
Agitasi dan propaganda dilakukan melalui
penguasaan unsur-usur pers, yaitu Kantor Berita Antara dan Persatuan Wartawan
Indonesia (PWI). Selanjutnya adalah melakukan pidato tokoh-tokoh PKI disegala
forum kegiatan pemerintahan dan non pemerintahan. Hal ini bertujuan untuk
memotivasi solidaritas kaum komunis dan para simpatisannya.
e. Isu
PKI melancarkan isu “Dewan Jenderal”
yang anggotanya adalah sejumlah Jenderal TNI AD, yaitu A.H.Nasution, A.Yani,
Soeprapto, S.Parman, Haryono M.T., Sutojo S., D.I.Pandjaitan, dan Soekendro.
Isi isu “Dewan Jendral“ tersebut antara lain :
1. Dewan
Jenderal mempunyai tugas khusus memikirkan usaha-usaha dalam rangka menghadapi
kegiatan yang bersifat “kiri”. Dengan isu ini ada kesan bahwa TNI AD merupakan
kekuatan yang bersifat “kanan” dan anti-PKI.
2. Dewan
Jenderal mempunyai tugas menilai kebijakan Presiden. Dengan isu ini dibangun
kesan bahwa TNI tidak dapat dijamin loyalitasnya kepada Presiden.
3. Dewan
Jenderal bekerjasama dengan imperialis. Citra yang hendak dibuat adalah TNI AD
telah menghianati perjuangan rakyat.
4. Dewan
Jenderal akan merebut kekuasaan dari Presiden Soekarno dengan memanfaatkan
pengerahan pasukan daerah yang didatangkan ke Jakarta dalam rangka peringatan
HUT ABRI Tanggal 5 Oktober 1965.
Selain isu “Dewan Jenderal” tersebut,
PKI juga melancarkan isu “Dokumen Gilchrist”. Wacana yang dibangun dalam isu
ini adalah seolah-olah ada kerjasama antara unsure-unsur TNI AD dengan pihak
Amerika dan Inggris yang pada waktu itu dikategorikan sebagai kekuatan Nekolim.
Kronologi Pemberontakan G 30 S PKI
Dalam situasi
sakitnya Presiden Soekarno, PKI melakukan evaluasi, bahwa pertentangan antara
PKI dan TNI AD tidak dapat dihindari bila kepemimpinan Presiden Soekarno tidak
ada lagi. Dalam situasi tersebut, TNI AD mempunyai kemampuan untuk menggulung
PKI. Sebelum hal itu terjadi, PKI harus melumpuhkan TNI AD terlebih dahulu,
yaitu dengan melakukan Gerakan 30 September 1965 (G 30 S/PKI), Langkah-langkah
PKI antara lain:
1.
Persiapan
·
Melakukan pelatihan kemiliteran pada bulan
Juli-September 1965 di Lubang Buaya, Pondok Gede, Jakarta. Yang dilatih adalah
para kader dan ormas PKI, antara lain Serikat Buruh Angkatan Udara, Barisan
Tani Indonesia, Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia, Pemuda Rakyat,
Universitas Republika, Serikat Buruh Kereta Api, SB Postel, SOBSI, Partindo,
Buruh/Tani non partai dan mereka yang bersimpati pada PKI.
·
Sasaran Utama gerakan pasopati adalah :
A.H.Nasution, A.Yani, Soeprapto, S.Parman, Haryono M.T., Sutojo S.,
D.I.Pandjaitan.
·
Sasaran pasukan bima sakti adalah objek-objek
vital seperti gedung studio RRI Jakarta, gedung telekomunikasi, dan daerah –
daerah penting di sekitar lapangan Monumen Nasional.
2.
Aksi
Setelah langkah Persiapan selesai, pada malam hari 30 September 1965 menjelang dini hari 1
Oktober 1965 PKI melakukan penculikan, penyiksaan dan pembunuhan terhadap
“Dewan Jenderal”. Mereka berhasil membunuh dan menculik enam perwira tinggi
Angkatan Darat. Enam perwira Angkatan Darat korban keganasan PKI tersebut ialah
1.
Letnan Jenderal Ahmad Yani,
2.
Mayor Jenderal R. Suprapto,
3.
Mayor Jenderal S. Parman,
4.
Mayor Jenderal M.T. Haryono,
5.
Brigadir Jenderal D.I. Panjaitan, dan
6.
Brigadir Jenderal Sutoyo Siswomihardjo.
Jenderal Abdul Haris Nasution (Menteri
Kompartemen/Kepala Staf Angkatan Bersenjata) yang menjadi sasaran utama
berhasil meloloskan diri dari upaya penculikan. Akan tetapi, puterinya, Ade
Irma Suryani meninggal setelah peluru penculikmenembus tubuhnya. Dalam
peristiwa itu tewas pula Lettu Pierre Andreas Tendean, ajudan A.H. Nasution
yang dibunuh karena melakukan perlawanan terhadap PKI. Demikian pula Brigadir
Polisi Karel Satsuit Tubun yang tewas ketika mengawal rumah Wakil Perdana
Menteri(Waperdam) II Dr. J. Leimena, yang rumahnya berdampingan dengan Jenderal
A.H. Nasution.
Di perkampungan Lubang Buaya para pemberontak PKI
menyiksa dan membunuh para perwira TNI AD. Mayat-mayat mereka dimasukkan ke
dalam sumur kering dengan kedalaman 12 meter. Para pemberontak kemudian
menyumbat lubang tersebut dengan sampah dan daun-daun kering.
Setelah berhasil membunuh beberapa perwira TNI AD,
PKI mampu menguasai dua sarana komunikasi vital, yaitu studio RRI di Jalan
Merdeka Barat dan Kantor Telekomunikasi yang terletak di Jalan Merdeka Selatan.
Melalui RRI, PKI menyiarkan pengumuman tentang Gerakan 30 September yang
ditujukan kepada para perwira tinggi anggota “Dewan Jenderal” yang akan
mengadakan kudeta terhadap pemerintah. Diumumkan pula terbentuknya “Dewan
Revolusi” yang diketuai oleh Letkol Untung Sutopo.
Di Jawa Tengah dan DI. Yogyakarta, PKI melakukan
pembunuhan terhadap Kolonel Katamso (Komandan Korem 072/Yogyakarta) dan Letnan
Kolonel Sugiyono (Kepala Staf Korem 072/Yogyakarta). Mereka diculik PKI pada
sorehari 1 Oktober 1965. Kedua perwira ini dibunuh karena secara tegas menolak
berhubungan dengan Dewan Revolusi.
Penumpasan G 30 S PKI
Langkah penumpasan PKI diimpin oleh Mayjen
Soeharto. Langkah yang ditempuh antara lain :
1. Melakukan
mengkonsolidasi dan menggerakkan personil Markas Kostrad dan satuan – satuan
lain
2. Menarik
dan menyadarkan kesatuan-kesatuan yang telah dipengaruhi dan digunakan oleh
Gerakan 30 September 1965.
3. Operasi
merebut studio RRI Jakarta dan Kantor Besar Telkom.
4. Melakukan
serangan ke basis PKI di Pangkalan Udara Halim Perdana Kusumah.
Semua langkah
tersebut berhasil diselesaikan.
Dampak Sosial-Poltik Pemberontakan
G-30-S/PKI
Sikap pemerintah yang
belum dapat mengambil keputusan untuk membubarkan PKI, ditambah dengan situasi
politik, ekonomi dan keamanan yang semakin bertambah kacau, mengakibtakan
kemarahan rakyat tidak dapat dibendung lagi. Masyarakat yang terdiri dari
berbagai unsur seperti kalangan politik, ormas, perorangan, pemuda, mahasiswa,
pelajar, kaum wanita secara serentak membentuk satu kesatuan aksi dalam bentuk
FRONT PANCASILA. Dipelopori oleh Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) yang
dibentuk pada tanggal 25 Oktober 1965 dan juga didukung oleh berbagai kesatuan
aksi lainnya seperti KAPPI, KAPI, KASI, KAWI, KABI, dsb. Mahasiswa dan rakyat
bergerak mengadakan demonstrasi.
Demonstrasi
besar-besaran terjadi tanggal 10 Januari 1966, menuntut 3 tuntutan yang disebut
TRITURA (Tiga Tuntutan Rakyat), meliputi :
1. Pembubaran
PKI
2. Pembersihan
Kabinet Dwikora dari unsure-unsur PKI
3. Penurunan
harga – harga (perbaikan ekonomi)
Pembaharuan kabinet
Dwikora terjadi tanggal 21 Februari 1966, dan kemudian disebut dengan Kabinet
Dwikora yang disempurnakan. Kabinet baru tersebut tidak dapat diterima oleh
rakyat, karena Jenderal A.H.Nasution (orang yang anti PKI) tidak dimasukkan
dalam kabinet. Sementara beberapa tokoh yang terindikasi mendukung PKI terpilih
dalam cabinet. Jumlah cabinet mencapai hamper 100 orang, maka disebut cabinet
100 Menteri.
Menjelang pelantikan
Kabinet, tanggal 24 Februari 1966, KAMI melakukan aksi demonstrasi, dalam aksi
tersebut tewas seorang mahasiswa bernama Arief Rahman Hakim tertembus peluru
pengawal Presiden. Setelah itu tanggal 25 Februari 1966 KAMI dibubarkan. Atas
perlindungan Amir Mahmud mahasiswa membentuk Laskar Arif Rahman Hakim dengan
tujuh batalyon yang diberi Pahlawan Revolusi dan Ade Irma Suryani. Mereka
menamakan diri sebagai angkatan ’66.
Pada tanggal 11 Maret
1966 1966, diselenggarakan siding cabinet yang intinya membahas kemelut politik
nasional. Karena situasi sedang gawat, akhrnya Presiden menutup siding dan
pergi ke Bogor diikuti oleh Subandrio dan Chairul Saleh dan 3 Perwira Tinggi
TNI AD (Mayjen Basuki Rahmat, Brigjen M.Yusuf, Brigjen Amin Mahmud). Dalam
kesempatan itu Presiden membuat Surat Perintah 11 Maret yang sering disingkat
Supersemar. Isinya pokoknya: “memerintahkan kepada LetJend Soeharto atas nama
Presiden untuk mengambil tindakan yang dianggap perlu untuk terjaminnya
keamanan dan ketertiban serta kestabilan jalannya pemerintahannya dan jalan
revolusi sera menjamin keselamatan pribadi dan kewibaan Presiden”
Dengan demikian,
munculnya peristiwa G 30 S/PKI telah mengakibatkan :
1. Keadaan
ekonomi dan politik sangat memprihatinkan.
2. Di
daerah muncul gejala social.
3. Inflasi
mencapai 600% tiap tahun.
4. Pemerintahan
tidak berfungsi secara efisien.
5. Pemerintah
melaksanakan politik mercusuar bagi Negara lain.
Proses Peralihan Kekuasaan Politik
Setelah Peristiwa G 30 S/Pki
1.
Masa
Transisi (1966-1967)
Supersemar kemudian dikukuhkan menjadi
Ketetapan MPRS No. IX/MPRS/1966 yang memberikan wewenang kepada Letjen Soeharto
selaku Menteri Panglima Angkatan Darat untuk mengambil segala tindakan yang
dianggap perlu guna menjamin keamanan dan ketenangan serta kestabilan jalannya
revolusi. Kemudian dalam rangka pemurnian UUD 1945 MPRS membuat ketetapan MPRS
No.XI/MPRS/1966 tentang Pemilu yang akan dilaksanakan selambatnya 5 Juli 1968.
Setelah itu MPRS mengeluarkan ketetapan
MPRS No.XII/MPRS/1966 tentang pembentukan Kabinet Ampera untuk memenuhi dan
melaksanakan Tritura di bidang ekonomi, keuangan, dan pembangunan. Tugas
pembentukan Kabinet Amper diserahkan kepada Letjen Soeharto sebagai pengemban
ketetapan MPRS No. IX/MPRS/1966. Tugas pokok cabinet ini adalah menciptakan
kestabilan politik dan ekonomi, dengan programnya antara lain memperbaiki
kehidupan rakyat, terutama di bidang sandang dan pangan serta melaksanakan
pemilu.
2.
Peralihan
Kekuasaan dari Presiden Soekarno kepada Jenderal Soeharto
Pada sidang Umum MPRS tahun 1966,
Presiden selaku mandataris MPRS diminta oleh MPRS untuk memberikan
pertanggungjawaban mengenai kebijakan yang telah dilakukan, khususnya mengenai
masalah yang menyangkut peristiwa G 30 S/PKI. Presiden member nama pidato
pertanggungjawabannya itu NAWAKSARA yang artinya Sembilan pokok masalah. Akan
tetapi masalah nasional mengenai G 30 S/PKI sama sekali tidak diungkit,
sehingga pertanggungjawaban Presiden dianggap tidak lengkap.
Pada tanggal 23 Februari 1967 di Istana
Negara Jakarta dengan disaksikan oleh Ketua Presidium Kabinet Ampera dan para
Menteri, Presiden/Mandataris MPR/Panglima Tertinggi ABRI dengan resmi telah
menyerahkan kekuasaannya kepada pengemban Ketetapan MPRS No.IX/MPRS/1966
Jenderal Soeharto. Dengan demikian maka berakhirlah periode pemerintahan Orde
Lama yang dipimpin oleh Presiden Soekarno dan dimulailah periode pemerintahan
Orde Baru pimpinan Presiden Soeharto.
3.
Perkembangan
Kekuasaan Orde Baru
Tujuan Orba adalah pemurnian kembali
kepada pemurnian Pancasila dan UUD 1945.
Langkah yang dilakukan dalam Orde Baru :
1. Memurnikan
politik luar negeri bebas aktif.
2. Mempererat
dan memperluas hubungan kerjasama regional bangsa-bangsa Asia Tenggara, pada
tanggal 8 Agustus 1967 Deklarasi Bangkok berhasil ditandatangani. Dengan ini
lahirlah ASEAN.
3. Melaksanakan pembangunan nasional (Trilogi Pembangunan), bunyinya
:
a. Pemerataan
pembangunan dan hasil-hasilnya yang menuju pada terciptanya keadilan social
bagi seluruh rakyat.
b. Pertumbuhan
ekonomi yang cukup tinggi
c. Stabilitas
nasional yang sehat dan dinamis.
4. Menetapkan
Delapan Jalur Pemerataan
5. Melaksanakan
tugas Kabinet Ampera yang disebut Darma Kabinet Ampera.
0 komentar:
Posting Komentar